E-Budgeting di Jakarta Harus Diperketat


POKER ONLINE INDONESIA - Dugaan korupsi pengadaan uninteruptable power supply (UPS) dalam APBD-P DKI Jakarta 2014 membuktikan adanya kebocoran anggaran meskipun sistem penganggaran elektronik atau e-budgeting sudah diterapkan.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) penerapan e-budgeting masih perlu diperketat untuk menghindari kebocoran dana.

Ahok mencontohkan, pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) yang digunakan sebagai dasar penetapan RAPBD tidak masuk ke sistem e-budgeting. Padahal seharusnya, sejak awal pembahasan KUA-PPAS hingga disahkannya APBD, harus masuk dalam e-budgeting.

"Saya cek, ternyata pas kemarin, mereka (DPRD DKI) saking sering bahas KUA-PPAS, enggak mau masukin ke e-budgeting. Jadi bahas dulu, baru masuk. Padahal saya mintanya, dalam proses pembahasan pun semua di-e-budgeting. Jadi kelihatan kalau ada perubahan berapa kali. (Sekarang) hilang jejak itu," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Selasa (17/11/2015).

Dia pun menegaskan, telah menginstruksikan kepada Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Tuty Kusumawati untuk tidak menghilangkan setiap proses pembahasan anggaran ke dalam e-budgeting.

"Semalam saya sudah bilang ke Bu Tuty, hati-hati, saya tidak mau prosesnya dihilangin. Saya kan inginnya ada proses," lanjut dia.

E-budgeting, selain diharapkan dapat meminimalisir penyelewengan dana melalui sistem monitoring, juga sebagai pembelajaran bagi pihak Pemprov untuk melakukan evaluasi anggaran.

"Jadi ada pembelajaran, orang tahu kenapa ini dikurangi, ditambah, dicoret DPRD. Jadi orang bisa belajar dan kalau saya enggak jadi gubernur lagi, maka gubernur yang akan datang begitu diperlihatkan proses e-budgeting dia ngerti gitu loh, 'Oh kenapa kita prioritas ini, kenapa dalam tengah jalan dicoret, kenapa ditambah dikurang' gitu," jelas Ahok.

Keunggulan lain dari sistem penganggaran yang terkomputerisasi ini adalah kemudahan akses dan penyimpanan data yang tak terbatas waktu. Berbeda jika catatan anggaran dicetak dalam bentuk fisik, akan mudah hilang, rusak dan sebagainya.

"Dia cetak buku sih memang, setiap proses kita langsung cetak. Tapi kalau cetak, ditumpuk-tumpuk hilang. Tapi kalau ditaruh dalam sistem Smart City atau di i-Cloud gitu kan selamanya, sampai kiamat juga kalau enggak terjadi sesuatu di dunia ini orang masih punya. Kalau buku (mudah) hilang," pungkasnya.
Artikel Sebelumnya
Next Post »